This option will reset the home page of this site. Restoring any closed widgets or categories.

Reset

Buku, Manusia, dan Budaya Bangsa

Untuk mendeskripsikan kaitan antara pemanfaatan buku dan membaca adalah dengan karakter, kualitas, dan prestise, yang menyebabkan buku menjadi pilihan. Bahkan, lebih dari sekedar fungsi dan kekhasan yang membuat seseorang “terpuaskan”, membuat hingar-bingar televisi tidak lagi menjadi persoalan. Itulah buku.

Dalam tahun 2008 ini, demi pemberantasan buta aksara, perlu lagi digaungkan manfaat membaca buku. Ini untuk meningkatkan minat baca sekaligus memberantas buta aksara di negeri ini yang masih 4,59 persen dari 220 juta penduduk. dan mengacu pada data Human Development Report 2007, angka buta aksara penduduk Indonesia sebesar 12,1 persen, yang berarti bahwa 1 dari 8 orang masih buta aksara. Indonesia masih di atas 10 persen dari tetangga ASEAN kita Malaysia, Thailand, Filipina rata-rata 7 persen, sementara Brunei 6 persen (Kompas, 6/09/08). Perpustakaan sebagai institusi yang bersentuhan dengan buku, wajib menggaungkan kembali manfaat buku dan membaca. Buku adalah mediatornya, membaca adalah kuncinya, serta perpustakaan adalah fasilitatornya. Tidak keliru jika perpustakaan menahbiskan diri sebagai “Universitas Rakyat”, mendidik masyarakat dengan membaca buku koleksinya secara gratis.

Memang untuk menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan masih terasa berat. Himpitan ekonomi yang mencekik serta deru konsumerisme, tidak berjalan berimbang. Rakyat lebih mementingkan kebutuhan pokok sandang pangan dari pada mengurusi kebutuhan membaca. Akibatnya terjadi ketimpangan dalam pemenuhan kebutuhan membaca, orang lebih suka berlomba-lomba mencari uang, kemudian menghamburkannya untuk kepentingan sesaat dan melupakan investasi mulia terhadap buku.

Kita seringkali mendengar slentingan tentang rendahnya minat baca. Meski seharusnya hal ini tidak lagi boleh terdengar, mengingat sekarang telah ada fasilitas perpustakaan, rumah baca, taman bacaan, yang masing-masing banyak juga dilengkapi dengan fasilitas buku keliling. Mungkin yang terjadi menurut prof. Dr. Yus Rusyana, seorang pakar pendidikan bahasa dan sastra UPI Bandung, adalah keadan fasilitas, misalnya buku yang mudah dijangkau, tidak mahal. Lebih dari itu yang perlu diusahakan juga bahwa masyarakat harus menggunakan waktu, keadaan, dan mungkin juga fasilitas yang ada untuk kegiatan membaca (buletin Pusat Perbukuan Depdiknas, vol. 11/2005).

Fasilitas yang ada bukan hanya buku atau perpustakaan, tetapi juga waktu. Bagaimana sekarang televisi telah merampas waktu semua orang, sehingga mereka perlu diingatkan juga untuk tidak sia-sia dalam menggunakan waktunya untuk membaca. Artinya dari membaca mereka harus memperoleh sesuatu dari apa yang dibacanya lebih dari menonton televisi. Seorang petani bisa memajukan produksi pertaniannya gara-gara membaca, atau para nelayan bisa menemukan trik dan tips untuk menangkap ikan lebih banyak.

Pamor

Pelopor sekolah “global” Qaryah Thayyibah Salatiga, Bahruddin, mengemukakan betapa berharganya buku dibanding yang lain. menurutnya, buku merupakan mediator utama dalam pembelajaran yang belum bisa digantikan oleh piranti apapun (buletin Pusat Perbukuan Depdiknas, vol. 11/2005:32). Jika saja masyarakat kita mau berinvestasi dengan buku mungkin keterpurukan ekonomi kita bisa teratasi.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mendorong kemakmuran sebagian kalangan masyarakat diikuti dengan munculnya kebutuhan untuk mengekspresikan diri melalui kebutuhan informasi. maka, kehadiran perpustakaan dan pusat informasi memiliki fungsi lain, yaitu sebagai institusi pemenuhan kebutuhan pengetahuan dan wawasan. buku-buku koleksinya menjadi penanda status intelektual yang wajib dibaca seseorang.

Simak saja penuturan Taufik Ismail, Penyair besar Indonesia yang intens dalam menyuarakan melek literasi, mengaku bahwa hal yang mewakili karakter dalam dirinya adalah buku-buku. Buku-buku layaknya sahabat setia, yang selalu menemani dalam segala kondisi. Bukan berarti hanya dipajang, tetapi untuk menjadikannya sebagai sumber nutrisi rohani, ia wajib dibaca karena memiliki kandungan gizi yang sehat bagi kapasitas intelektual.

Pamor yang dihadirkan sebuah buku memang dahsyat. sekali tercipta, buku tersebut menjadi fenomenal dan ” abadi”. Meskipun di tengah persaingan dengan sepupu mudanya, “internet” serta adik kandungnya “e-book”, namun menjadi yang pertama membacanya merupakan kebanggaan tersendiri.

Selain pamor, buku-buku tidak mengenal kata “basi”. Kesempurnaan kualitas yang diraih dari keunggulan isi, pilihan kata, desain, juga keahlian sang penulis dalam menyampaikan, menyebabkan bentuk dan harga tidak lagi dipersoalkan. Tidak mengherankan jika nilai buku relatif bertahan selama berabad-abad, meski kemudian bahan baku meningkat.

Membentuk watak dan budaya

Penonjolan watak juga tampak dari keinginan untuk tidak sama dengan orang lain, dengan kata lain eksklusif begitu harian Kompas (14/09/08) menyebutnya. Seperti halnya kebutuhan seseorang akan buku-bacaan bermutu dengan datang ke perpustakaan yang ada, demi meningkatkan pengetahuannya. Ini dilakukan oleh orang-orang tertentu yang menginginkan pola pikirnya tercerdaskan berbeda dari yang lain.

Tidak berlebihan juga jika seorang Dian Sastro Wardoyo mengungkapkan pengalamannya dengan buku dalam buletin Pusat Perbukuan Depdiknas (vol 9/2003:29) bahwa buku dapat menjadikan seseorang “berkarakter” dengan sifat positif. Menurutnya dengan membaca buku-buku, seseorang, menjadi lebih terbuka akan segi-segi perasaan dan pergulatan manusia diberbagai kehidupan. Menjadi lebih peka dengan isu-isu dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal ini karena bisa lebih menyerap perasaan dan pengalaman orang lain. Bukulah yang memperhalus budi dan mempertajam nurani, darinyalah nurani akan terasah sehingga kita dapat menjadi manusia-manusia yang berbudi, tentunya dengan gemar membaca. Aktingnya dalam “Pasir Berbisik” adalah buah dari buku yang dipetiknya.

Jadi sebisa mungkin buku dapat bermanfaat untuk meningkatkan segi-segi kehidupan masyarakat pembaca. Inilah yang akan membedakan dan mengungulkan sumber daya manusia yang mau dan mampu menyelami buku bacaaan. Dengan membaca tersebut sebenarnya masyarakat sedang membentuk karakter dari sebuah bangsa.

Tidak berlebihan jika membaca buku adalah investasi intelektual yang perlu dibudayakan semua kalangan. Bukankah bangsa yang maju adalah bangsa di mana rakyatnya memiliki budaya baca tinggi?.(**)



MORE_COMMENT

  1. asep rohmandar says:

    setuju buku, perpustakaan dan bangsa tetap bermartabat dan dalam perasabanya

  2. pak dhe says:

    @asep rohmandar: begitulah seharusnya membentuk bangsa yang bermartabat. sepakat!

Leave a Reply