Menjadi Orang Tua Yang Asyik, Belajar Dari Karya-Karya ROALD DAHL
Beberapa hari terakhir ini karena libur bekerja, saya banyak menghabiskan waktu bersama anak dan membaca buku-buku karya Roald Dahl. Roald Dahl adalah seorang pengarang buku cerita anak-anak yang sangat laris di pasaran. Beberapa karyanya seperti Mathilda dan Charlie and the Chocolate Factory telah di filmkan dan laris di pasaran. Itu menunjukkan kualitas seorang Roald Dahl dalam bertutur hingga memikat banyak orang, bukan hanya anak-anak.
Buku karya Roald Dahl pertama yang saya baca adalah Charlie and the Chocolate Factory. Saya tertarik untuk membaca buku tersebut karena pernah membaca resensinya di sebuah media. Setelah membaca, ternyata cara bercerita Roald Dahl benar-benar memikat, walau buku itu ditujukan untuk anak-anak, saya merasa bisa menikmati dan enggan untuk berhenti membaca. Walau apa yang dituturkan fiksi dan sangat-sangat absurd tapi saya bisa terhibur dan menangkap banyak pesan yang diungkapkan dengan halus, bukannya secara vulgar yang sering saya temui dalam banyak buku cerita anak karya pengarang lokal.
Sekali lagi, walau karya-karya Roald Dahl sangat absurd, saya masih sangat bisa menikmati dibanding cerpen atau novel sastra para sastrawan yang juga absurd. Saya benar-benar tidak bisa menangkap apa yang hendak mereka sampaikan. Mungkin saking bodohnya saya yang tidak bisa mengerti karya sastra.
Kembali ke karya Roald Dahl, buku-buku yang selanjutnya saya baca adalah James and the Giant Peach. Lagi-lagi ini adalah kisah yang absurd karena bagaimana mungkin buah bersik bisa membesar sebesar rumah bertingkat 2 dan berisi berbagai macam hewan seperti lipan, cacing, kepik, laba-laba,belalang hijau dan ulat sutra sebesar manusia. Tapi dari buku ini pula saya bisa banyak mendapat banyak pengetahuan seperti belalang hijau mampu mengeluarkan suara seperti biola dan mempunyai telinga di bagian perutnya. Sementara pada jengkrik telinga terletak di kakinya. Ini seperti pelajaran biologi dalam cerita.
Selain menelurkan karya fiksi, Roald Dahl juga menceritakan perjalanan hidupnya dengan cara bertutur yang sangat menarik dalam buku yang berjudul Boy :Tales of Childhood . Kreatifitas dan daya imajinasinya yang tertuang dalam karya-karyanya ternyata telah muncul semenjak kecil. Roald Dahl kecil berani berbohong sakit usus buntu supaya diizinkan pulang ke rumah dari asrama dan memasukkan kotoran kambing ke pipa rokok tunangan kakaknya karena orang tersebut sangat sombong.
Walau terkesan nakal, tindakan Roald Dahl tersebut menunjukkan kreatifitasnya yang tinggi. Ini akan saya ingat jika suatu saat nanti mungkin anak-anak saya juga melakukan kenakalan yang serupa agar saya tidak keburu marah berlebihan. Siapa tahu dia nanti juga menjadi pengarang terkemuka. Memang, kalau kita tidak peka, sering kali kita sebagai orangtua justru mematikan kreatifitas anak dengan vonis nakal.
Pada bagian lain dari buku tersebut, Roald Dahl yang berdarah Norwegia mengisahkan betapa pendidikan di Eropa pada jaman dahulu (sekitar 1920-an) sangat keras. Setiap kesalahan yang dilakukan siswa selalu mendapat hukuman berupa cambuk di bagian pantat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika ini terjadi di Indonesia.
Buku lain yang juga saya baca adalah Danny the Champions yang mengisahkan perjalanan hidup seorang bocah bernama Danny yang dibesarkan oleh ayahnya karena ibunya meninggal sewaktu melahirkannya. Danny mendapat julukan the Champion karena telah menemukan cara yang sangat jitu untuk menangkap burung pegar dengan cara memasukkan obat tidur dalam kismis, makanan yang sangat disukai oleh burung pegar. Di buku ini saya mendapatkan gambaran yang luar biasa tentang asyiknya seorang anak yang dibesarkan hanya oleh ayahnya.
Dalam buku ini saya juga bercermin dan bertanya, mampukah saya jadi orang tua sekaligus sahabat sebagaimana ayah Danny, yang memberikan pendidikan namun mampu jadi teman bermain. Di tengah mahalnya biaya sekolah yang bermutu saat ini, tepat kiranya jika kita mencoba mengembalikan hakekat keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan/madrasah. Orang tua dan anak belajar bersama dan menjadikan lingkungan sebagai obyek, bukannya siswa yang menjadi obyek sebagaimana proses pengajaran saat ini.
Di bagian terakhir pada buku tersebut, Roald Dahl menyampaikan pesan pada pembaca bahwa orang tua yang kaku sama sekali tidak menyenangkan. Yang anak-anak inginkan dan mereka layak dapatkan adalah orang tua yang asyik !! wah, saya bermimpi seandainya semua orang tua mampu menjadi orang tua yang asyik pasti tak ada lagi anak yang meninggal karena dianiaya oleh orang tuanya. Tak ada lagi anak yang stress dan memakai narkoba sebagai pelarian karena orangtuanya cuek dan hanya melimpahi dengan harta, bukannya kasih sayang.
Setelah membaca buku tersebut, saya termotivasi untuk orang tua yang asyik. Saya ingin menjadi orang tua yang mampu memberikan segenap cinta dan kasih sayang yang saya punya, bukan hanya sekedar memberikan materi. Buat apa kekayaan duniawi kalau kita jadi tidak punya waktu untuk mendidik dan membesarkan anak dengan cinta ? Apa artinya kemewahan dan makanan yang bergizi jika kita justru tidak mengisi gizi bagi jiwanya dengan lebih banyak memberikan cinta dan kasih sayang kita ?
Menjadi orang tua yang asyik berarti kita harus siap untuk menjadi orang tua dan teman sekaligus. Bagi beberapa orang mungkin ini terasa berat karena saya melihat masih banyak orang tua yang menikmati jika mereka selalu ditakuti oleh anaknya. Segala perintahnya harus dituruti tanpa ada diskusi. Banyak orang tua yang merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Bahkan yang lebih parah, anak kadang dijadikan pelampiasan impian orang tua yang tidak terwujud. Seperti orang tua yang menginginkan anaknya menjadi dokter karena dulu orang tua tersebut ingin menjadi dokter namun gagal. Ini bisa memicu stress pada anak bila merasa terlalu tertekan.
Memang bukan hal yang mudah untuk menjadi orang tua yang asyik. Terkadang kita harus merendahkan ego kita. Selalu mau berdiskusi dan menerima pendapat anak bila memang itu benar. Di lain pihak kita juga dituntut untuk disiplin dan konsisten dengan apa yang kita ucapkan. Tidak asyik bukan jika ayah melarang anak merokok tapi dirinya sendiri merokok. Atau seorang ibu yang mengajarkan pada anaknya untuk selalu tepat waktu tapi justru dirinya sendiri suka jam karet.
Sulit ? sebetulnya tidak. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan dan kemauan untuk menjadi orang tua yang asyik. Saya kadang merasa heran dengan orang tua yang rela melakukan apapun untuk meraih jabatan atau posisi namun tidak mau berusaha lebih keras untuk meraih hati anaknya. Jika kita sebagai orang tua mengharapkan punya anak yang asyik, maka seharusnya kita menjadi orang tua yang asyik terlebih dahulu.



