Bahan Bacaan Untuk Pasien Anak, Tersediakah ?
Shock..bingung bercampur sedih. Itulah yang saya rasakan ketika menerima kabar bahwa Najma, putri saya yang baru berumur 1 tahun harus menjalani rawat inap karena positif terkena demam berdarah. Padahal dalam saat yang bersamaan saya juga harus menjalani rawat inap, juga karena gigitan nyamuk genit (yang menularkan virus dengue penyebab demam berdarah adalah nyamuk aedes aegypti betina). Kebingungan langsung terbayang bagaimana keluarga harus berbagi tugas untuk menjaga dua pasien. Namun untunglah, Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang mengijinkan kami rawat gabung walau harus pindah ke kamar kelas pavilliun yang lebih mahal. Tak apalah, bagi seorang ibu, berkumpul dengan anak terlebih saat sakit jauh lebih penting dari apapun.
Sebagaimana pasien pada umumnya, Najma juga harus menerima infus melalui selang yang ditusukkan pada pembuluh darah di tangan kanan. Saya sebetulnya merasa tidak tega menyaksikan tubuh mungil Najma harus dipasangi infus lalu tangannya dibalut dan disangga papan agar jarum infus tidak mudah lepas. Terlebih mungkin karena merasa tidak nyaman, Najma sempat menarik selang infus hingga darah mengucur membasahi perban yang membalut tangannya. Najma yang biasanya ceria dan energik menjadi gelisah dan rewel. Sebetulnya, jika Najma rewel di rumah, obatnya cukup sederhana, saya berikan setumpuk buku bacaan anak dan saya pilihkan salah satu untuk saya dongengkan. Resep ini cukup manjur. Namun karena panik, keluarga tidak sempat membawakan buku buat Najma.
Tapi ternyata, sekali lagi saya beruntung dan sangat bersyukur karena perawat yang bertugas menyampaikan informasi bahwa ruang inap anak selain menyediakan sarana bermain ternyata juga menyediakan buku bacaan walau jumlahnya sedikit. Kontan saya meminta agar perawat tersebut sudi meminjamkan beberapa buku buat Najma. Dengan adanya beberapa buku fasilitas dari rumah sakit tersebut, saya bisa sedikit meredakan ketidaknyaman Najma hingga akhirnya Najma diperbolehkan pulang karena trombositnya mencapai 170.000. Diatas minimal yaitu 150.000.
Dewasa ini, rumah sakit baik swasta maupun pemerintah di kota Surabaya semakin berkembang. Telah tersedia berbagai macam rumah sakit dengan beragam fasilitasnya mulai dari yang standar hingga yang seperti hotel bintang 5. Pasien bebas memilih mana yang sesuai dengan kantongnya, walau kadang pasien juga tidak punya pilihan jika ternyata rumah sakit yang dincar sedang penuh.
Semakin tinggi biaya yang dipatok, tentu semakin beragam pula fasilitas yang diberikan. Bahkan ada beberapa rumah sakit yang sangat memperhatikan fasilitas makanan bagi pasien dan pengunjung sehingga menggunakan jasa koki berkualitas setara hotel berbintang. Menu dan tampilan makanan rumah sakit pun menjadi menarik dan nikmat disantap. Namun sangat disayangkan, dari beragam fasilitas rumah sakit terutama bagian rawat inap anak, saya jarang atau belum pernah menemukan adanya fasilitas buku bacaan anak. Kecuali yang saya temukan di Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang. Sebagai seorang pustakawati sekaligus orang tua yang gila buku, ini menimbulkan banyak pertanyaan. Karena menurut saya buku untuk anak, terlebih disaat mereka sakit, sangatlah penting.
Memang jika dibandingkan dengan dana puluhan milyar rupiah untuk membayar klaim askes masyarakat miskin di beberapa rumah sakit pemerintah di Surabaya yang ramai diberitakan akhir-akhir ini, adanya fasilitas bahan bacaan bagi pasien menjadi sangat kecil dan seolah tak berarti. Ini karena di mata masyarakat dalam kehidupan normal saja, buku masih menjadi kebutuhan yang kesekian. Apalagi di saat sakit.
Walau saya bukanlah seorang berkutat di bidang kedokteran, saya percaya bahwa kesembuhan seorang pasien bisa disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama sudah pasti secara medis. Setelah melalui diagnosis masalah kesehatan yang dialami pasien, dokter lalu menentukan tindakan dan langkah pengobatan yang harus dijalani oleh pasien. Jika tidak ada faktor x, dalam beberapa waktu pasien diharapkan sembuh. Faktor kedua menurut saya adalah faktor non medis. Ada banyak faktor non medis. Salah satu yang bisa saya sebutkan adalah psikis pasien. Menurut saya psikis pasien sangat berperan dalam proses penyembuhan pasien. Itulah sebabnya tim doker RSUD Dokter Soetomo Surabaya melibatkan Dr Nalini M. Agung, seorang psikiater untuk membantu psikis Nur Jazilah (Lisa), pasien face off yang wajahnya rusak akibat disiram air keras oleh suaminya.
Untuk kasus Lisa diatas, keberadaan Dr Nalini merupakan satu keistimewaan karena jika seluruh pasien juga mendapatkan fasilitas serupa, saya tidak membayangkan betapa besar biaya yang harus ditanggung oleh pasien. Selain kehadiran psikiater atau psikolog, sebetulnya psikis pasien bisa lebih buat merasa nyaman sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan dengan jalan memberikan bacaan yang bersifat hiburan karena mampu memberikan efek relaksasi. Kita mungkin pernah mendengar bahwa ada pasien yang fanatik dengan dokter tertentu. Kalau sakit harus ke dokter A padahal kadang dokter tersebut hanya menyentuh dan memberi resep vitamin, ternyata pasien tersebut sembuh. Ini dikarenakan psikis pasien telah tersugesti oleh kemampuan dokter tersebut.
Dalam konteks berbeda, efek tersebut juga bisa kita dapatkan dari apa yang kita baca. Jika seorang pasien mendapatkan informasi yang positif, yang mampu memotivasi semangat hidupnya maka proses penyembuhan pasien akan semakin cepat. Semisal penderita kanker yang membaca buku chicken soup for the surviving soul (kisah nyata tentang penderita kanker yang berhasil sembuh) akan banyak mengerti, belajar dan merasa bahwa banyak pasien serupa dirinya di seluruh dunia sehingga tidak merasa sendiri. Jika mereka dalam buku tersebut mampu bangkit dan sembuh, maka seharusnya dirinya bisa.
Bagaimana dengan pasien anak ? bagi pasien anak adanya bahan bacaan anak (bisa berupa buku atau majalah) akan sangat membantu mengatasi rasa jenuh dan bosan sekaligus membantu untuk sedikit meredakan rasa sakit yang diderita. Jika bahan bacaan tersebut memuat kisah lucu dan pasien tertawa, itu merupakan hal yang positif dan mampu membantu proses penyembuhan. Bukankah ada pepatah ketawa itu sehat ? bahkan bagi anak yang belum bisa membaca, bahan bacaan juga bisa membantu mengatasi ketidaknyaman pasien seperti pada Najma. Tentunya dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran ekstra dari orang tua untuk sudi mendongengkan isi buku tersebut.
Saya memakai istilah mendongeng, bukan membacakan buku karena mendongeng tidak mewajibkan anda untuk membaca sama persis apa yang ada di buku. Anda bisa kembangkan sesuai dengan kondisi dan kreatifitas karena kadang memang melelahkan jika kita harus membaca persis sesuai teks dalam buku. Anak juga bisa bosan.
Selain untuk membantu proses kesembuhan pasien anak, dengan tersedianya fasilitas buku untuk anak, secara tidak langsung maka Rumah sakit juga turut berperan menumbuhkan minta baca dan mengembangkan budaya membaca pada anak. Inilah sebabnya saya memandang pentingnya keberadaan bahan bacaan bagi anak di Rumah sakit. Dalam jangka panjang, anak yang telah memiliki budaya membaca tinggi akan menjadi aset terpenting dari peradaban bangsa ini. Saya dan juga anda pasti percaya, bahwa tidak mungkin peradaban sebuah bangsa dibangun tanpa adanya budaya membaca. Maukah pihak rumah sakit terutama rumah sakit di kota Surabaya ini berperan serta di dalamnya ?



