Membuat Jantung Sekolah Kembali Berdetak, Berguru Pada Seorang Kartono
Apa jadinya jika manusia tanpa jantung ? Bisa dipastikan mati adalah satu-satunya jawaban. Demikian juga seharusnya perpustakaan sekolah yang menjadi sumber informasi, pengetahuan, bahkan juga wisata berpusat. Apabila perpustakaan berhenti berdetak, sekolah itu boleh dibilang sudah tidak memiliki roh. (Jawapos,06/12/2007).
Namun premis tersebut ternyata tidak berlaku bagi sebagian sekolah yang bukan hanya perpustakaannya berhenti berdetak namun justru tak punya jantung atau perpustakaan sekolah.
Pada tahun 2000, IFLA(International Federation Library Assiciate)/Unesco pernah menerbitkan manifesto perpustakaan sekolah dan diharapkan menjadi dasar berdirinya perpustakaan sekolah. di dunia termasuk Indonesia. Saya tidak tahu persis apakah di Indonesia manifesto ini sudah diterapkan. Namun sejauh yang saya tahu, memang hanya sebagian sekolah saja yang memiliki perpustakaan dan dari sebagian itu hanya segelintir saja yang perpustakaannya masih berdetak Data Dinas Pendidikan (Dispendik) Pemkot Surabaya 2006/2007 menyebutkan, hampir 58 persen SD tidak memiliki ruang perpustakaan. Di antara 944 SD se-Surabaya, hanya 402 sekolah yang memiliki perpustakaan. Dengan begitu, ketersediaan perpustakaan itu baru 42 persen.(Jawapos,06/12/2007).
Kenyataan tersebut diatas sebetulnya sebuah ironi mengingat Kota Surabaya mempunyai visi Smart and Care (cerdas dan perduli). Bagaimana bisa mencerdaskan warganya jika banyak SD yang tidak memiliki perpustakaan yang punya peranan vital dalam proses mencerdaskan siswa ?
Saat melaunching program reading three books get one gift beberapa bulan silam, kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Umum Surabaya, Arini Pakiswati menyatakan bahwa minat baca siswa SD di Indonesia relatif rendah. Bahkan jauh jika dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Apalagi jika dibandingkan dengan negara Singapura dan Jepang. Sangat jauh.
Mungkin secara keseluruhan fakta tersebut benar. Namun jika berbicara tentang minat baca siswa SD di Surabaya, pengalaman saya justru menyatakan sebaliknya. Minat baca siswa SD di Surabaya termasuk cukup tinggi. Jika ada yang menyimpulkan minat baca mereka rendah dari jumlah kunjungan ke perpustakaan SD itu lebih disebabkan karena perpustakaan sekolah yang kurang menarik. Baik dari segi fisik bangunan perpustakaan, skill ”pustakawannya” (yang pada umumnya bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan) dan koleksi perpustakaan itu sendiri.
Selama beberapa tahun (2004-2005) saya sempat menjadi bagian dari mobil Pustaka Sampoerna yang melayani beberapa sekolah di wilayah pabean cantiaan dan rungkut yang termasuk minus. Setiap hari saya menjadi saksi betapa mereka sebetulnya merasa dahaga akan buku-buku anak yang bermutu. Setiap kali kami datang, mereka langsung menyerbu dan berebut ingin membaca berbagai koleksi yang kami miliki. Mereka terkesan memiliki minat baca yang rendah karena memang tak ada yang mereka baca.
Baik disekolah maupun di rumah. Itupun masih diperparah dengan sikap guru-guru dibeberapa sekolah yang kami kunjungi yang cuek dengan pentingnya membaca. Tapi tak apalah. Bisa memenuhi dahaga anak-anak itu dengan buku-buku bermutu yang kami sajikan sudah menjadi obat tersendiri yang tak ternilai oleh uang berapapun. Walau tidak ada penelitian pasti tentang alasan kenapa sebuah sekolah tidak punya perpustakaan atau sudah punya namun tidak berdetak, saya tahu pasti yang menjadi kendala.sebuah alasan klasik yang bernama dana. Tanpa bermaksud menghakimi, saya berpendapat bahwa alasan dana sebetulnya bukan satu alasan yang kuat. Saya percaya jika seorang kepala sekolah mempunyai visi yang kuat tentang peran vital perpustakaan sekolah dalam melahirkan generasi muda yang cerdas dan berwawasan, dana bisa cari. Kemauan dan niat, itu yang paling penting. Meski berlimpah dana, kepala sekolah yang berwawasan sempit dan kerdil pasti lebih mementingkan megahnya bangunan
fisik sekolah daripada bangunan jiwa siswa yang bisa dicapai melalui perpustakaan sekolah yang bermutu.
Jika seorang kepala sekolah menyatakan bahwa dan menjadi kendala untuk membuat perpustakaan menjadi berdetak,mungkin para kepala sekolah tersebut perlu merendahkan hati dan berguru pada seorang Kartono. Kartono adalah seorang mantan germo yang menjadi pendiri sekaligus pemilik rumah bacaan “Kawan Kami” yang terletak di jalan Putat Jaya gang IIA no 36. Dengan tekad yang kuat untuk mengubah keadaan sekitar sekaligus mengurangi dampak negatif lokalisasi Doly bagi anak. Berbekal modal seadanya, Kartono sekarang berhasil mewujudkan tekadnya. Berawal dari ratusan buku, sekarang taman bacaan Kawan Kami telah memiliki lebih dari seribu buku yang merupakan sumbangan berbagai pihak. Termasuk sumbangan buku dari Badan Arsip dan Perpustakaan Umum Surabaya yang juga telah menyatakan diri untuk membina taman bacaan tersebut.
Kisah nyata dari seorang Kartono tersebut sungguh mengharukan sekaligus menakjubkan.Bagaimana seorang mantan germo bisa punya pemikiran yang mulia untuk mencerdaskan warga sekitar sementara para kepala sekolah di Surabaya yang seharusnya punya peran formal dalam mencerdaskan anak didiknya malah lalai dengan berbagai alasan. Sudah seharusnya kita malu dan berguru pada Kartono. Jika Surabaya punya visi Smart and Care, Kartono telah membuktikan visi tersebut. Kartono telah perduli dan mencerdaskan lingkungan sekitarnya. Jika Kartono bisa membuat Dolly punya jantung yang berdetak, seharusnya para Kepala Sekolah juga bisa membuat “jantung” sekolahnya kembali berdetak.
dimuat di Jawa Pos, 11 Desember 2007




Saya sangat kagum dengan saudara yang sangat kreatif, andaikata semua pustakawan di sekolah sekereatip saudara barangkali semua sekolah, akan mempunyai nyawa yang beribu ribu yang tidak terhitung sehingga semua sekolah selalu diisi dengan pembaharuan 2 yang selalu menampilkan ilmu -ilmu yang bermamfaat bagi orang banyak,yang tidak pernah putus ,selalu mengalir seperti air laut tampa ujung . Demikian dengan ilmu yang selalu berkembang,kalau kita selalu mengikuti perkembangan niscaya kita menjadi orang yang beruntung , sepanjang hayat dikandung badan pergunakan waktu itu dengan se-baik- baiknya .Belajarlah dari sejak dalam buaian sampai keliang lahat .Terima kasih ya ibu , SELAMAT BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK PERPUSTAKAN ANDA SEMOGA ALLAH SELALU MEREDHOI AMIN !
saya rasa perpustakaan yang efektif sebagai sarana informasi adalan berdirinya perpustakaan desa dan kelurahan karena hampir 70persen masyarakat negara kita ada di desa /kel maka saatnya membangun perpustakaan desa dengan melibatkan pemerintahan desa sebagai ujung tombak pelayanan rakyat langsung yang dijamin uu otda dan uu tentang desa yang lebih besar bukan kepada proyek2 besar saja apbn teh atuh……..