This option will reset the home page of this site. Restoring any closed widgets or categories.

Reset

Membuat Anak Kecanduan Membaca

Setelah menikah, saya tinggal bersama suami di daerah Sedati. Pada hari libur ketika saya pulang kerumah orang tua di daerah Kebraon pada hari libur, keponakan saya yang berumur 3 tahun menyambut dan menanyakan oleh-oleh. Karena saya tidak membawa oleh-oleh maka saya menjanjikan untuk jalan-jalan dan beli jajanan/mainan yang dia mau. Saya dan suami sangat terkejut ketika keponakan saya tadi berkata bahwa dirinya tidak mau jajanan/mainan melainkan buku!. Sungguh suatu jawaban yang diluar dugaan dan diluar kebiasan anak seusianya.
Ketika anak seusianya berpikiran tentang jajanan/mainan favorit, keponakan saya yang bernama Nazhmi justru berpikiran tentang buku favoritnya yaitu buku tentang hewan-hewan. Ketika mencoba merenung peristiwa tersebut saya jadi tersenyum dan bersyukur bahwa kebiasaan mencintai buku dan membaca  saya sudah menular kepada Nazhmi.
Semenjak kecil Nazhmi tinggal bersama saya dan orangtua saya, kami menjadi sangat dekat. Semenjak kecil pula (dibawah 1 tahun) saya sudah mengenalkan berbagai macam buku bacaan kepada Nazhmi. Kala itu saya bekerja sebagai pustakawati di Mobil Pustaka Kita PBASampoerna yang memiliki berbagai macam koleksi buku anak-anak yang sangat bagus, menarik dan bermutu.
Dari berbagai macam buku yang saya kenalkan dan saya bacakan tiap hari, ternyata membentuk kebiasaan “membaca” pada diri Nazhmi. Kebiasaan saya membacakan buku tanpa disadari turut berpengaruh terhadap daya ingatnya. Walau hanya sekali dibacakan, Nazhmi langsung mampu mengingat isi cerita buku tersebut. Ketika suami saya ditodong Nazhmi untuk membacakan buku yang sama dan ternyata salah ucap, dengan cepat Nazhmi  menegur dan membuat suami saya jadi tersipu malu.  Daya ingat Nazhmi sungguh luar biasa, ketika usianya baru 2,5 tahun  dirinya sudah mampu mengingat berbagai macam jenis burung yang ada di buku berjudul 100 pengetahuan tentang burung. Padahal  lebih dari 100 macam burung ada di buku tersebut.
Mengingat apa yang telah dicapai Nazhmi membuat saya bahagia sekaligus bersedih. Bahagia karena Nazhmi merupakan bukti bahwa jika kita ingin anak kita hobi membaca maka harus di kenalkan budaya membaca sejak dini. Sedih karena tidak semua anak mempunyai kesempatan seperti Nazhmi. Dalam sebuah penelitian  terungkap bahwa minat baca siswa sekolah dasar di Indonesia berada pada peringkat  26 dari 27 negara yang diteliti (Suara Pembaruan, 5 Mei 1997)
Rendahnya minat baca siswa SD di Indonesia juga menunjukkan rendahnya perhatian berbagai pihak (pemerintah, sekolah dan orangtua) tentang pentingnya membaca. Kita semua pasti menyadari bahwa budaya membaca erat sekali kaitannya dengan tingkat kemajuan sebuah negara. Semakin tinggi budaya baca pada sebuah negara maka semakin maju pula negara tersebut. Jepang adalah bukti nyata mengenai pentingnya budaya membaca. Selain itu membaca juga salah satu aktivitas yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan lainnya.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak seluruh komponen pendidikan dasar terutama pihak guru dan orang tua untuk lebih memperhatikan dan mengenalkan budaya baca ini. Jika anak tidak dikenalkan dengan budaya membaca semenjak dini akan sangat sulit mengharapkan munculnya budaya tersebut diusia dewasanya kelak.
Menurut Dr Keith Osborn dari University of Greorgia dan Dr. Burton L White dari Harvard Preschool Project (World Book Prospectus, 1993) berdasarkan hasil risel menunjukan bahwa perkembangan intelektual anak paling besar adalah  mengenalkan budaya membaca dapat dimulai saat bayi mulai berusia nol bulan hingga berusia 4 tahun. Saya telah membuktikan bahwa mulai usia di bawah 1 tahun (saya mulai mengenalkan budaya membaca ketika Nazhmi berumur 6 bulan), Nazhmi telah mampu menangkap dan merekam apa yang kita sampaikan. Bahkan anak saya sendiri pun semenjak nol bulan telah saya kenalkan dengan budaya membaca.
Mengenalkan budaya membaca semenjak bayi berusia nol bisa dimulai dengan membacakan buku-buku cerita yang bergambar dan berwarna di saat dia terbangun. Ketika bayi anda berusia 3-4 bulan dan mampu menyangga kepalanya sendiri, bisa anda pangku dan anda bacakan buku cerita yang anda pegang di depannya. Jangan membaca terlalu cepat serta mainkan intonasi dan ekspresi anda. Tinggi rendahnya intonasi suara anda dalam membacakan cerita terbukti turut berperan dalam mengembangkan kecerdasan bayi anda.
Meski mungkin sedkit terlambat, tidak ada salahnya para orangtua yang sudah memiliki anak usia SD namun tidak menunjukkan minat baca yang tinggi atau bahkan tidak punya minat baca sama sekali mulai dirangsang untuk mau membaca. Orangtua memegang peranan yang sangat penting karena para orangtua diharapkan mau menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membelikan bahan bacaan bagi putra-putrinya. Usahakan minimal sebulan sekali mengajak putra/putrinya jalan-jalan ke toko buku.
Selain itu, untuk lebih merangsang minat baca anak, orang tua dapat memberikan reward. Jika sang anak mampu menyelesaikan 1 buku dalam 1 minggu dan mampu menceritakan dengan baik apa isi buku tersebut.  Selain rangsangan berupa reward, akan sangat mengena jika orang tua juga memberikan tauladan yaitu membiasakan membaca diwaktu-waktu senggang. Pada umumnya, anak cenderung meniru orang tuanya.
Yang terpenting dalam mengenalkan budaya membaca pada anak-anak harus dipahami bahwa tidak boleh ada unsur paksaan yang akan membuat anak semakin tidak suka membaca. Jadikan aktivitas membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dengan cara mengajak rekreasi ke taman bacaan atau perpustakaan.
Sejatinya membaca adalah sebuah kenikmatan tersendiri karena membaca mampu memunculkan imajinasi. Apabila seseorang membaca, maka dia sedang bermain dengan imajinasinya  itu sendiri. Tentunya membahagiakan, apabila anak berkembang dengan imajinasi yang tinggi, sehingga anak akan mampu menganalisis, berargumentasi dan  berfikir logis. Hal tersebut bisa dicapai dengan membaca buku-buku yang bermutu  dan bukan dari tontonan televisi yang tidak bermutu.
Walau mungkin terasa berat bagi orang tua yang tidak punya budaya membaca. Percayalah bahwa upaya anda saat ini akan sangat jauh bermanfaat bagi masa depan putra-putri anda.

Dwi Prihastuti, A.Md
Librarian SD Al Falah Tropodo (artkel ini pernah dimuat di Opini metropolis Jawa pos 19 Desember 2006)



1 Comment

  1. Tauhid says:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb

    Untuk lebih mendorong anak-anak dan remaja gemar membaca, Pandu HW (Hizbul Wathan) di Pusdiklat Purwodadi (sebelah utara Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan) telah merintis Perpustakaan Masyarakat. Sayangnya koleksi bahan puatakanya masih sangat terbatas, padahal terkesan minat baca anak-anak maupun remaja di desa sekitarnya tampak meningkat. Ada yang dapat membantu? (Kami ingin memperoleh alamat lembaga-lembaga yang dapat membantu pengembangan perpustakaan kami termaksud.)

    Terima kasih.

    Wassalam,

    Tauhid
    081-652-7486

Leave a Reply