This option will reset the home page of this site. Restoring any closed widgets or categories.

Reset

What is Dublin Core (DC)?

Berikut ini adalah rangkuman tentang apa itu Dublin Core Metadata yang saat ini lagi hangat-hangatnya dibahas dimana-mana
( oleh-2 workshop :) ).

  • Conceived in 1994
  • Standard status : NISO/ANSI (2001), ISO (2003)
  • ISO Standard 15836-2003, February 2003http://www.niso.org/international/SC4/n515.pdf
  • NISO Standard Z39.85-2001, September 2001
    http://www.niso.org/standards/resources/Z39-85.pdf
  • Included now in most DL software (DSpace, Greenstone, etc.)
  • 15 core elements
  • Each element is optional and may be repeated.
  • No defined order of elements


Elemen Dublin Core

  1. dc:title. Nama yang diberikan pada resource dan biasanya sebuah resource akan dikenal dengan nama ini.
  2. dc:creator. Berisi nama pencipta/pengarang dari resource
  3. dc:subject. Topik dari isi sebuah resource yang biasanya akan diekspresikan sebagai keyword atau key phrase kode klasifkasi yang mendeskripsikan topik sebuah resource.
  4. dc:description. Penjelasan tentang isi sebuah resource yang biasanya berisi abstract atau table of content.
  5. dc:publisher. Berisi pihak penyiar/pem-publish dari resource
  6. dc:contributor. Pihak yang memberikan kontribusi terciptanya sebuah resource.
  7. dc:date. Data tanggal yang berhubungan dengan seputar resource.
  8. dc:type. Tipe content sebuah resource. Type menjelaskan general Category, Function, genre atau tingkat pengelompokan dari isi.
  9. dc:format. Manifestasi fisik atau digital suatu resource. Format bisa berupa media-type atau dimensi sebuah resource.
  10. dc:identifier. Referensi yang tidak ambigu terhadap resource dalam kontek yang diberikan.
  11. dc:source. Menunjuk sebuah resource dari mana resource yang ada diturunkan (derived).
  12. dc:language. Bahasa yang digunakan dalam penulisan kontent sebuah resource.
  13. dc:relation. Menyatakan link resource yang berhubungan.
  14. dc:coverage. Cakupan atau ruang lingkup dari konten sebuah resource.
  15. dc:rights. Informasi tentang hak yang ada pada resource.

Elemen-2 diatas sebenarnya masih dapat dikembangkan lebih detil lagi sesuai kebutuhan sehingga informasi yang disajikan dapat benar-2 “qualified”.

Referensi :

  • Understanding Metadata. 2004. National Information Standards Organization (NISO) Press. (http://www.niso.org/standards/resources/UnderstandingMetadata.pdf)
  • Dublin Core (http://dublincore.org)
  • Using Dublin Core (http://dublincore.org/documents/2003/08/26/usageguide/)


MORE_COMMENT

  1. arupphala says:

    saya sepakat bahwa kelebihan dari DC itu adalah fleksibilitasnya… kita bebas memilih seberapa rinci data yang akan kita isikan. Sayang sekali justru fleksibilitas ini pulalah yang menjadi kelemahan utama DC karena tidak ada standar yg menetapkan ruas data mana saja yang wajib ada sehingga setiap perpus mungkin berbeda-beda dalam menentukan ruas mana saj yang harus diisi. Kelemahan lain, DC tidak memeiliki satandar pengisian ruas seperti pada AACR sehingga besar sekali kemungkinan sebuah ruas data (elemen) berisi data yang berebeda-beda di setiap perpus meskipun buku yang di’metadata’ itu sama.

  2. pakdede says:

    Kenapa mesti pakai DC?
    Kita sudah punya INDOMARC, dimana INDOMARC dikembangkan oleh bangsa kita sendir walau mengadopsi dari USMARC.
    Kadang kita tidak sadar bahwa kita selalu terkejut-kejut dengan hal-hal yang baru, tanpa disadari bahwa hal baru tersebut belum tentu cocok dengan kita.
    Pustakawan buka hanya mencari kemudahannya saja, akan tetapi juga harus mengenali perilaku pengguna perpustakaan.
    Kalau kita mau sedikit teliti, tugas pustakawan selain melayani informasi cepat, tepat, dan akurat, juga memuaskan pengguna informasi, masih juga ditambah dengan tugas pertanggungjawaban kepada atasan pustakawan. (Laporan kekayaan pustaka dan informasi pustaka).
    Apakah pada struktur metadata pada DC sudah mencakup itu semua?
    Thank’s

  3. Suyadi says:

    Menurut saya DC atau MARC atau apa lagi itu sama saja, seperti orang pilih pakaian, yang penting kita tahu betul pilihan yang kita tetapkan. Dengan format apapun saya yakin kita dapat memberikan semua informasi yang kita cari, itu tergantung kita. Saya yakin sebagian besar pengguna perpustakaan tak tahu dan tak peduli katalognya pake standar apa, yang penting apa yang dia cari ketemu.
    Mungkin yang lebih penting ketika pengguna mencari suatu bahan pustaka, dia menemukannya di Perpustakaan UI, Perpustakaan ITB, PERPUSNAS, Perpustakan USU, Perpustakaan UGM, dan semua perpustakaan di Indonesia, kemudian beliau ini menuju ke perpustakaan terdekat, atau memesannya via online.
    Lha…. ini dia… yang kita tidak punya. Sebenarnya itu bisa diwujudkan kok, apapun softwarenya, apapun standard-nya, sungguh…….. saya percaya 100% bisa. Kita bisa membuat seperti http://www.worldcat.org.
    Yang wajib dipersiapkan setiap perpustakaan adalah adanya layanan pertukaran data yang efektif dan efisien. ayo…. ada yang usul?
    Terima kasih.

Leave a Reply