This option will reset the home page of this site. Restoring any closed widgets or categories.

Reset

Misteri Minat Baca Masyarakat

Kuadi namanya, 37 tahun. Lulusan SMA. Bapak dari tiga anak ini kesehariannya  bekerja sebagai penarik becak, dan menjadi dalang. Tentu saja bukan dalang kerusuhan tapi dalang sungguhan. Dalang wayang kulit.

“Lumayan  mas, kalau pas menjelang perayaan agustus-an banyak order.” Terangnya dengan bahasa jawa suatu kali. Bahkan jika order mendalang banyak,  untuk sementara narik becaknya libur. Kuadi termasuk dalang yang  disukai banyak orang di kawasan Gringsing, Weleri dan sekitarnya.

Pasalnya, ketika masuk sesi goro-goro, via Punakawan Kuadi begitu mahir dalam menyentil, dan menyindir penguasa. Ada saja persoalan politik,  sosial, dan ekonomi yang mengerutkan dahi, ia masak, kemudian disajikan dalam bentuk yang cair, rileks, satir, olok-olokan, lucu sekaligus  subversif!

“Kebetulan saya ketika SMA dulu suka membaca buku  mas, dan kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang.” Jawabnya  ketika saya tanya soal resep jitu kelihaiannya mendalang. Kuadi melahap  berbagai bacaan khususya tentang wayang—bidang yang sangat ia cintai  sejak usia Sekolah Dasar—dan sejarah. Seperti babad tanah jawi,  filosofi di balik nama tokoh-tokoh wayang, kisah Mahabarata dan  Ramayana. Berita termutakhir di koran pun tak luput menjadi amahannya.  “Dengan banyak membaca, ada saja yang bisa saya olah menjadi bahan  cerita. Pokoknya tidak ada habisnya mas.”Tambah Kuadi mengakhiri  jawabannya.

Soal minat baca, ada satu fakta penting yang sering kali orang lupa: bahwa tingginya minat baca ternyata tidak berbanding lurus dengan tingginya  tingkat kemampuan ekonomi seseorang—satu dalih yang sering disangka orang sebagai biang kerok jebloknya minat baca. Mudahnya, kaya belum  tentu gemar membaca buku. Sarjana bukan jaminan penyuka baca. Itu sebab  mengapa Primanto Nugroho ketika mempresentasikan hasil penelitian  kualitatifnya pada diskusi minat baca yang diselenggarakan oleh Pusat  Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada (11/10/2000), memberi judul  hasil penelitiannya: Memotret Misteri Minat Baca di Masyarakat.

Temuan  Primanto sungguh mengagetkan, jika tidak mau disebut aneh! Apa pasal?  Duduk perkara minat baca ternyata bukan soal kalkulasi tinggi atau  rendah. Minat baca lebih merupakan keadaan yang bervariasi sesuai  dengan lokalitas di setiap elemen penyusun gerak masyarakat. Kepekaan  dan variasi kebutuhan informasi di masyarakat itulah yang akan banyak  menentukan keberhasilan suatu bacaan. Dalam bingkai temuan Primanto,  minat baca (buku) masyarakat sangat bergantung kepada bagaimana masyarakat menganggap penting atau tidak penting suatu informasi.  Sekaligus kemampuan memilih dan memilah informasi yang akan dikonsumsi.  Karena pada dasarnya media teks, apapun itu merupakan kemasan/bentukan  luar informasi saja.

Dengan demikian pamrih meningkatkan budaya  baca masyarakat berbanding lurus dengan bagaimana memberikan kesadaran  tentang betapa pentingnya informasi dalam kehidupan (pekerjaan dan  aktivitas) mereka. Persepsi terhadap informasi itu, sebenar-benarnya faktor penentu mengapa orang rajin atau malas membaca buku. Sejauh  informasi dianggap tidak penting, sejauh itu pula minat baca (buku)  akan tetap jongkok. Biar ada berbagai kebijakan populis: kampanye gemar  membaca, perpustakaan keliling, subsidi buku, hibah buku, buku murah  (diskon), deregulasi industri penerbitan buku, dan sebagainya.

Bukti paling dekat, laporan Jajak Pendapat Kompas (20/11/2006), tentang  Minat Baca warga Jateng, dengan sampel: Kota Semarang, Solo,  Purwokerto, dan Tegal. Sekitar 77,53 persen responden, mengisi waktu  luang dengan membaca teks non buku. Bahkan sekitar 20,30 persen  responden melewatkan waktu senggangnya tanpa membaca apa pun. Tidak  kurang dari 67,16 persen responden tidak pernah mengunjungi perpustakaan, dan 58,21 persen responden tidak pernah menganggarkan  gaji per bulannya untuk membeli buku.

Melek Huruf Secara Fungsional

Jika soal minat/tidak minat baca tidak ada sangkut pautnya dengan ketersediaan bacaan atau mahal-murahnya harga buku, lalu dari pintu mana,  gerakan gemar membaca hendak masuk? Ada baiknya kita simak bersama,  laporan UNESCO tahun 2005 berjudul Literacy for Life. Dalam laporan  tersebut disebutkan bahwa ada hubungan yang erat antara illiteracy  dengan kemiskinan. Di banyak negara, di mana angka kemiskinan  tinggi, tingkat literasi cenderung rendah. Illiteracy menyebabkan tingkat penghasilan perkapita rendah. Seperti yang terjadi di  Banglades, Ethiopia, Ghana, India, Nepal, dan Mozambique. Lebih dari 78  persen penduduknya, penghasilan per hari di bawah 2 dollar AS.

Literasi—istilah lain dari melek huruf secara fungsional—adalah kemampuan  seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara. Serta kemampuan mengindentifikasi, mengurai dan memahami masalah. Baik yang  terjadi di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, maupun di  lingkungan yang lebih luas, negara. Sehingga ketika mendapati satu  masalah, mampu menentukan berbagai pilihan bentuk penyelesaian.  Kemampuan literasi memampukan luasan pengetahuan dan pengetahuan  seseorang menjadi berkembang. Dan salah satu “tenaga dalam” kemampuan literasi adalah dengan membaca buku.

Deskripsi di atas  menjelaskan kepada kita bahwa illiteracy memengaruhi rendahnya tingkat  produktivitas kerja dan partisipasi dalam masyarakat. Konsekuensinya adalah berupa rendahnya derajat kesejahteraan ekonomi keluarga.

Baca, sejahtera! Dua lema (entry) itu yang menurut saya kunci dalam gerakan  gemar membaca. Jurkam minat baca harus mampu memberikan pemahaman  kepada masyarakat bahwa membaca buku secara langsung maupun tidak  langsung akan memengaruhi besaran rupiah yang bakal mereka dapat.

Mereka yang mempunyai kemampuan literasi (melek huruf secara fungsional), berkesempatan mencari dan memperoleh informasi yang memungkinkan  mereka mengembangkan usaha: misalnya soal produk apa yang sedang dicari  orang; mencari celah-celah pasar baru; dan sebagainya. Komunikasi  dengan rekanan bisnis jadi efektif dan hemat, terbukanya kesempatan  mengikuti kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Termasuk  lincah menciptakan lowongan kerja bagi dirinya sendiri. Contoh paling  nyata, mudah dan sederhana untuk menjelaskan hubungan antara minat baca  dengan kesejahteraan ekonomi (baca: penghasilan naik), adalah seperti  yang telah saya tulis di awal: Kuadi, penarik becak yang mahir mendalang.[]

Oleh. Agus M. Irkham 
Pernah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Akhir Desember 2006 

Sumber : Indonesia Membaca



MORE_COMMENT

  1. Arda dinata says:

    terima kasih atas infonya
    makasih

  2. cindy says:

    Pada dasarnya minat baca akan timbul bila ada minat dan motivasi. tanpa adanya minat dan motivasi niscaya perilaku gemar membaca tidak akan terlaksana. perilaku gemar membaca atau minat baca dapat dibentuk dan diproses sejak dini ( anak - anak ). yang berperan dalam pembentukan dan pemrosesan minat baca adalah keluarga atau orang tua. Karena keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali untuk mensosialisasikan gemat membaca. Dengan penanaman minat baca sejak dini secara tidak langsung telah menanamkan kebiasaan gemar membaca. Karena kebiasaan itulah anak - anak hingga dewasa nanti akan merasa haus akan informasi.

  3. putri_mulyanna says:

    saya pikir, minat baca itu akan lahir jika lingkungan juga mendukung. so, mulai skarang ciptakanlah lingkungan-lingkungan yg kaya’ gitu, jangan matikian perpustakaan kita. jadikanlah budaya membaca sebagai lanskap budaya yg dapat mencerminkan jati diri kita sbagai seorang pelajar. jangan hancurkan bangsa kita dengan ’stop reading’.
    baca…baca….baca…
    kalian akan tahu sendiri koq manfaatnya. bwanyaaaakkkk banget. mungkin belum terlalu terasa seketika. tapi saya yakin, cepat atau lambat kita akan menemukannya. mari hadapi ganasnya era globalisasi ini dengan banyak membaca…
    kembalikan budaya kita sebagai pencinta buku. ok????
    jangan pernah ada kata ‘malas’ dalam diri kita tuk memulai membaca. karena itu adalah salah satu bekal abadi yang bisa kita pegang dalam kehidupan kita di dunia ini. jangan matikan bangsa ini dengan kemalasan kita untuk melahap buku-buku….

  4. putri_mulyanna says:

    so, tunggu apa lagi???
    jangan pernah ada waktu kita yang terbuang cuma-cuna. ingat, hidup cuma sekali. so, manfaatkanlah sebaik mungkin.^_^

  5. Sudaryanti, Surabaya says:

    Saya juga mengakui bahwa minat baca masyarakat kita masih rendah, mungkin termasuk penulis sendiri. Saya mengalami sendiri ketika memberi teman-teman semacam buletin, booklet, artikel, dan lain-lain. Karena mereka tidak ada kepentingan dengan info yang ada di dalamnya, maka ketika disodori bacaan semacam itu cuma “ditaruh” saja. Ada juga yang balik meminta penulis untuk menceritakan inti bacaan itu apa….dasar pemalas.
    Masyarakat kelihatannya memang lebih suka … budaya “melihat”, “mendengar”, dan “ngobrol”. Ditambah lagi fasilitas yang menunjang, seperti tayangan yang menampilkan kisah “kawin-cerai” kalangan selebritis, sinetron, dsb. Obrolan yang dilakukan juga tidak jauh menyimpang dari topik tersebut.
    Saya berharap, stasiun televisi juga melakukan evaluasi terhadap tayangan-tayangan mereka. Bagaimana kalau tayangan-tayangan seperti itu dikurangi dan diganti dengan tayangan yang lebih bermutu.
    Sekian dan terima kasih.

  6. Arif Irfan says:

    Stakeholder pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan minat baca masyarakat. Orangtua, guru, masyarakat, pemerintah, dan pengusaha memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan di negara ini. buka http://www.bahasa-sastra-indonesia.blogspot.com

  7. dadang says:

    a memang rendah….tapi jangan pula salahkan mereka.
    sebenarnya bisa saja bikin masyarakat kita menjadi gemar membaca, asal semua ikut peduli dan turun tangan.
    mulaidari pemerintah dari negara sampai rt.
    yo tantangan mulai dari kita sendiri pada gemar mbaca ga, punya berap banyak buku. terus yo kita pajang buku kita di rumah biar di baca banyak orng, tetangga, ato tamu yang datang kerumah kita, kita prfokatori mereka biar malau kalo datang kerumah kita tapi gak nyentuh buku kita……kalo da industri rumah tangga yang ini namaya perpustakaan rumah tangga.

  8. asep rohmandar says:

    barang kali minat baca masyarakat kita selalu disalahkan padahal kita tidak pernah untuk baca mulailah dari diri kita, sebenarnya bangsa kita senang membaca karena terbukti banyaknya situs-situs keajaiban dunia ada di indonesia . budaya minat baca bukan hanya buku aja tetapi internet, museum , cd dan arsip sebenarnya bagian yang harus dibaca. marilah masyarakat Indonesia membaca dengan lahir dan batin untuk peradaban nusantara yang adil dan makmur. salam dari asosiasi perpustakaan desa dan kelurahan indonesia yang berdiri tanggal 28 0ktober 2008 di lembang jabar. dan barangkali untuk daerah lain yang mau bergabung dan ingin memberdayakan masyarakat dalam minat baca bisa mengubungi melalui email ke apdkasosiasi@yahoo.com atau tlp 022- 91310695

  9. dee says:

    kita memang harus meningkatkan minat baca kita,, mulai dr dri sendiri,, dgh dr dri sndiri, kita scra tdk lgsung akan mgajak orang laen membaca,, so, yg harus berubah adalah diri sendiri terlebih dahulu,,, beri teladan-deladan dengan cara yang cukup halu tp pazti,,

Leave a Reply