Perpustakaan Sekolah Harus Jadi Alternatif Sumber Ilmu
Jakarta, Kompas - Keberadaan perpustakaan sekolah tidak sebatas tempat penyimpanan buku paket pelajaran, tetapi justru harus mampu menyajikan alternatif sumber ilmu yang dibutuhkan dan selama ini sulit diakses siswa.
Terlebih lagi ada kecenderungan pola pengajaran di SD pada umumnya bersandar pada buku paket yang ditentukan sekolah. Ironisnya, sering kali buku paket tersebut hanya dari satu penerbit dan dipilih berdasarkan kedekatan pengelola sekolah dengan penerbit tertentu. Kondisi ini tidak memicu keinginan siswa untuk mencari sumber bacaan atau informasi di luar buku paket. Murid tidak mempunyai alternatif pengetahuan lain.
“Perpustakaan sekolah kerap tidak menjadi perhatian. Pernah saya melihat perpustakaan disatukan dengan laboratorium fisika dan tempat penyimpan alat olahraga. Padahal, sekolahnya terbilang bagus,” kata Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) Fuad Gani, Rabu (27/4), di sela-sela acara Pelatihan Manajemen Perpustakaan bagi Siswa dan Guru di Kampus UI Depok.
Bahkan, dalam penelitiannya pada Desember 2003, terungkap sekitar 20 persen siswa menyatakan sekolahnya tidak mempunyai perpustakaan. Dengan kata lain, dari 50 sekolah yang diteliti, delapan sekolah tidak memiliki perpustakaan.
Dia mengatakan, kualitas perpustakaan sekolah sangat bergantung pada komitmen kepala sekolah. Selama ini, kepala sekolah cenderung lebih tergiur membangun fasilitas sekolah seperti lapangan, membuat sekolah bertingkat, atau membeli pendingin ruangan, tetapi perpustakaan-terutama koleksinya-sering luput.
Fuad mengungkapkan, idealnya perpustakaan sekolah berisi buku pendamping. Buku juga harus lebih spesifik, yakni yang dibutuhkan anak untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar tetapi sulit diakses anak, baik karena harga mahal atau terbatas. Sekolah tidak perlu ragu pula untuk menarik minat anak datang ke perpustakaan dengan menyediakan buku fiksi, komik, dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif.
Di Amerika misalnya, variasi sumber buku di perpustakaan SD rasionya sudah satu anak berbanding 40 judul buku. “Kalau di Indonesia masih jauh untuk mencapai angka itu. Jika dapat mencapai rasio satu berbanding lima saja sudah baik,” katanya.
Perpustakaan juga tidak sebatas koleksi cetakan, tetapi dapat diperluas medianya atau multimedia, seperti dilengkapi dengan audiovisual, digital, dan online.
“Perpustakaan sangat penting di tingkat SD. Pada masa itulah anak dapat dibiasakan kreatif mencari berbagai sumber informasi. Apalagi sekeluarnya dari lembaga pendidikan anak dihadapkan pada kenyataan di masyarakat yang sangat komprehensif dan perlu dilihat dari berbagai aspek,” kara Fuad. (INE)
Sumber : Kompas




Membaca artikel ini sangat tertarik untuk menelusur lebih jauh, kebetulan kami ditantang untuk mengembangkan perpustakaan seperti negara maju, yang ingin kami peroleh adalah artikel Perpustakaan Sekolah sebagai.., ini sumbernya dari kompas tanggal berapa ? terus …kalimat Di Amerika misalnya, variasi sumber buku di perpustakaan SD rasionya sudah satu anak berbanding 40 judul buku…, ada ngak sih buku yang menjelaskan itu, hal itu sangat kami perlukan untuk rujukan program yang akan kami kembangkan. terima kasih
dear hasan,
saat ini aq kerja di distributor buku2 impor untuk anak2 kuliahan, trus kita berencana mau bikin newsletter, tapi ga tau cara bikinnya. Pake apa? microsoft publisher bisa ga yaa?
bikin newsletter under OS Windows bisa memakai MS Publisher atau Adobe Page Maker.
Bagaimana Pembenahan untuk perpustakkaan yang memiliki buku-buku pendidikan lama, sedangkan referensinya masih dibutuhkan, sementara itu ada buku baru yang masuk, jadi karena lemari buku sangat minim sementara ada buku baru pendidikan yang baru serta sulit untuk penyusunan buku yang baru, so bagaimana solusinya ? Terima kasih.
assalamu’alaikum
salam kenal dari perpustakaan masjid al hurriyyah IPB. mau belajar tentang perpustakaan disini
wassalam
bagaimana cara kita menangani perpustakaan sedangkan saya sendiri baru diangkat menjadi pustakawan di salah satu sekolah swasta,
yang jelas perhatian kita semua terhadap perpustakaan masih rendah. Minat baca kita juga masih dikalahkan oleh budaya cerita, lihat dan dengar. inilah keprihatinan kita bersama. sekarang tinggal bagaimana pihak perpusda mengatasinya. misalnya mengadakan promosi yang melibatkan taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, perpus kampus, toko buku dan lainnya sehingga gebyarnya dapat dilihat
bagi kita sekarang ini adalah penghargaan terhadap dunia perpustakaan harus lebih ditingkatkan lagi khususnya di tingkat pendidikan…. termasuk pengelola perpustakaan yang mengelola perpustakaan agar lebih di dorong dalam rangka peningkatan mutunya dan diberikan fasilitas dan kesejahtraan yang lebih baik lagi… angkatlah pustakawan -pustakawan honorer agar menjadi pegawai tetap didunia pendidikan agar kehidupannya terjamin
saya sudah 2 tahun jadi pustakawati di salah satu SD negeri jawa timur,tapi selama ini saya masih belum mampu untuk mengajak murid - murid saya mempunyai minat membaca buku perpustakaan.
yang ingin saya tanyakan adalah bagai mana caranya agar siswa punya minat baca
bagi qw perpus adlh tempat rumah yg k 2 maka perpus harus lebih di tingkatkan agar bisa menjadi yang lebih baik dari pada sebelumx
thnk’z
:SJB_appendSmiley(’:mrgreen:’) lo cuy, asyik banget tuch pnya perpus yang bagus alias g ngebikin bosen. gue malah berharap bisa punya perpuspus yang bagus sklian bisa ngebikin happy n buku:SJB_appendSmiley(’:roll:’)x juga yang baru2 n lengkap2. pengen banget tuch!:SJB_appendSmiley(’:)’) thanks ya!
assalamualaikum
thanx ya dah boleh ngambil artikelnya
salam kenal dari mahasiswa uin jurusan ilmu perpustakaan
kapan2 aku ngambil lagi ya artikelnya
wassalam
assalamualaikum,
salam kenal dari ku. mahasiswa UIN JKT Jur Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
thanx y atas artikelnya.bolehkan aku copy????
wassalam
eh gk jd deh aku copy artikelnya.thanx y. atas referensinya
Saya sudah 8 tahun menjadi pustakawan di sebuah SMA,tapi selama itu pula belum banyak buku yang bisa memenuhi kebutuhan baca siswa sejumlah kurang lebih 300 siswa pertahun. Dan banyak sekali kesulitan dalam menangani kehilangan buku yang saya alami tiap tahun. Senang sekali apabila diikut sertakan dalam bimbingan atau seminar gratis tentang perputakaan. ingin juga dapat kiriman buku gratis untuk menambah koleksi perpustakaan yang saya kelola, karena apabila bukunya hanya sedikit dan banyak yang hilang akhirnya membuat malas dalam mengelolannya.
saya sudah 7 tahun menjadi pengelola perpustakaan sekolah yang dikelola kerjasama diknas dengan yayasan yang terdiri SMP,SMK,SMAN,.Yang selama ini kurang mendukung usulan2 saya dengan beberapa alasan, padahal pasilitas boleh ngetop misalnya penataan ruang sangat bertentangan ilmu yang saya dapatkan,usulanya adalah diadakan seminar ttg perpustakaan pesertanya khusus kepala sekolah sehingga bisa keberadaan pustkawan yang sebenarnya, bukan cuma tahu penyusun buku,akan tetapi mempuyai ilmu seperti guru.Thaks